Sabtu, 20 Oktober 2012

Naskah Drama Untuk 10 orang Berjudul "Pengorbanan Seorang Ibu"



Post Pertamaku

Selamat datang di blog saya, ini adalah kali pertamanya saya akan membahas naskah drama, mungkin sebagian dari kalian ada tugas untuk menampilkan drama,kata guru saya narator hanya untuk bagian awal dan akhir(amanat) dari drama, kalau kalian ingin mengedit sendiri, silahkan saja!Ini real buatan kelompok bahasa indonesia saya.daripada teks naskah drama ini terdiam dan terselip di dokumen-dokumen saya, lebih baik saya share untuk kalian yang membutuhkan. tanpa susah silahkan kalian membaca artikel naskah drama di bawah ini.


Pengorbanan Seorang IBU

Di sebuah desa,tepatnya di rumah sederhana ada sepasang suami istri yang bernama Pak Hasan dan Ibu Eni.Bu Eni tersebut sedang mengandung 9 bulan yang sebentar lagi seorang anak pertama mereka akan lahir yang nantinya akan diberi nama Sari Asih Purwati, Setelah Sari lahir ternyata ia mengalami cacat mata karena sebelum lahir ibunya terjatuh dan mengenai ujung meja. Maka dari itu Bu Eni mengorbankan satu matanya untuk didonorkan ke Sari, agar Sari tidak buta. Beberapa tahun setelah Sari Lahir, Sari ditinggal  Bapaknya kerja di luar negeri untuk mendapatkan uang yang lebih untuk keluarganya. Makin tumbuh besar sikap Sari mulai melunjak karena dia malu dengan teman-temannya kalau ibunya buta satu mata.Teman-Temannya tersebut adalah Andre dan Fika. Dikemudian hari Sari meninggalkan ibunya. Karna ibunya terbelilit hutang banyak, dia ditagih seorang rentenir yang membawa anak buahnya.Saripun nantinya akan menikah dengan seorang yang bernama Raka. Dan Beginilah ceritanya.
Bu Eni        : “Bapak mau minum kopi? Saya buatkan ya.”
Pak Hasan  : “Tidak usah repot-repot bu,ibu kan sedang
                     mengandung tua, sudah biar bapak bikin sendiri!”.
Bu Eni        : “Tidak apa-apa pak, cuman buat kopi saja.
                    Sebentar ya pak”. Istri menuju ke dapur
Tiba-tiba suara gelas pecah di dapur mengagetkan bapak yang sedang menunggu kopi buatan ibu.
Bu Eni       : “Pak……Bapak… tolong saya!” teriak sang istri
Pak Hasan : “Astaghfirullah, buk ibu kenapa? Kenapa bisa begini?”
Bu Eni       : “Arghhh………Pak perut saya sakit, sepertinya mau
                   melahirkan “.
Pak Hasan : “Ayo bu saya bawa ke rumah sakit”
Pak Hasan : “Dok tolong istri saya, dia mau melahirkan dok “
Bu Eni       : “Arghhhhh, sakit…” Bu Eni merintih kesakitan.
Dokter      : “Oke ibu tarik napas dulu, buang! Tarik napas, Buang !
                    sekarang dorong bu pelan- pelan iya bagus, tarik napas lagi
                    dan dorong bu. Yah…!”
Dokter      : “Selamat anak ibu dan bapak berjenis kelamin perempuan”
Pak Hasan : “Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Kau selamatkan istri dan anakku.
                   Dokter Terima kasih Dok,” ungkapan gembira Pak Hasan dan tangisan
                   gembira Bu Eni tak tertahankan.
Dokter     : “Tapi pak sepertinya bayi anda mengalami kelainan. Apa sebelum menuju
                  ke rumah sakit ada terjadi kecelakaan?”
Pak Hasan : “Tak ada dok!”
Bu Eni       : “Sebenarnya ada dok, Tadi saya terjatuh di dapur dan mengenai ujung
                  meja. Lalu perut saya langsung sakit dok”
Dokter      : “Nah itu yang menyebabkan mata kiri anak ibu terkena benda keras dan
                  sekarang dalam keadaan cacat.”
Pak Hasan : “Apa? Cacat? Kenapa bisa?apa tidak bisa disembuhkan dok?”
Dokter      : “Sebetulnya bisa pak, tapi kita membutuhkan donor mata untuk bayi
                   bapak, dan harus segera karna jika satu minggu ini tidak dioperasi mata
                   kiri anak bapak akan permanen buta”
Bu Eni       : “Pak… maafkan ibu pak, ini salah ibu. Dok mata saya saja yang harus
                  didonorkan ke anak saya dok. Cepat operasi sekarang saja dok, supaya
                  mata anak saya tidak permanen buta.”
Pak Hasan : “Sudah buk, jangan buru-buru ambil keputusan. Nanti tambah parah bu”
Bu Eni       : “Enggak pak. Sudah ikhlaskan saja ibu. Yang penting anak kita sehat!”
Pak Hasan : “Ya sudah terserah ibu. Dok lakukan yang terbaik buat istri dan anak
                    saya ya dok!”
Dokter      : “Iya. Pasti saya usahakan pak !”
          Beberapa tahun Kemudian…
Sari          : “Bu, Sari berangkat dulu ya”.
Ibu           :  Iya, ini bekal buat kamu”.
Sari          : “Makasih ya bu”
Tiba-tiba 3 orang teman Sari datang mengejek ibu sari.
Andre      : “Teman-teman, sepertinya teman kita ini ibunya ada yang seperi bajak laut
                   nih”
Fika          : “Kok Bisa kayak bajak laut?”
Andre       : “Ya bisalah, kan matanya cuman satu. Jadi persis kayak bajak laut deh”
Fika          : “Haha… udah jelek kayak bajak laut lagi”
Fika dan Andre tertawa dengan senangnya.
Sari         : “Aahhhh, mendingan ibu tadi gak usah nganterin aku. Kenapa sih ibu selalu
                   bikin sial?”
Beberpa jam kemudian Sari pulang dan langsung memarahi ibunya
Sari         : “Sebaiknya mulai sekarang ibu nggak usah lagi nganterin dan datang ke
            sekolahku!”
Ibu          : “Memangnya kenapa nak? “
Sari         :“Ibu tuh selalu bikin aku malu bu..!”
Ibu          : “ ya sudah kalau itu maumu!”
Fika         : “Eh eh, Sari itu kasihan banget yah, udah ibunya buta, ditinggalkan bapaknya kerja”
Andre      : “Iya yah,Banyak nasib langsung menimpa dia”
Fika         : “Lagian masih untungan aku dibanding dia, orang tuaku lebih kaya juga”
Andre      : “Iya yah, kita juga punya mobil pula!”
Bertahun-tahun kemudian Sari sudah menduduki bangku  SMA. Ternyata sikapnya makin melunjak dan saat ini sari masih belum juga berubah.Setalah sari beragkat sekolah disana dia bertemu dengan teman SMAnya yang sekaligus dulu teman SDnya
Fika         : “Sari,kalau boleh tau,rumah kamu itu dimana sih? Aku nanti pulang sekolah
                  kerumahmu ya? Lagi bosen di rumah. Orang tuaku juga pergi ke luar kota
                  semua”
Sari       : “Jangan, Rumahku masih kotor karena pembokatku  baru aja pulang kampung”
Fika       : “Boleh aku minta nomer handphonemu?
Sari       : “Ada sih tapi gak hafal, Besok aja yah”
Fika       : “Ya sudah”
Sari      : “Eh, aku pulang duluan ya!”
Sepulang sari dirumah…
Sari      : “Bu, Hari ini ibu harus membelikan aku HP,laptop dan alat-alat kosmetik!”
Ibu       : “Tapi ibu nggak punya uang, mau dapat dari mana, uang yang dikirim bapakmu
          itu sudah hampir habis.”
Sari      : “Itu bukan urusanku, ibu kan bisa menghutang!”
Ibu       : “ Bagaimana kalau belinya minggu depan . ibu akan usahakan mulai dari
           sekarang”
Sari     : “ Nggak bisa ! kalau ibu tidak membelikan nya, aku gak akan sekolah!”
Ibu      : “ Baiklah akan ibu pinjamkan uang dulu ya, nanti kamu yang beli.”
Sari     : “ Yaudah cepet!”
Setelah membeli alat keperluannya keesokan harinya sari pergi ke sekolah menemui temannya dan memamerkan barang-barang barunya.
Sari     : “Katanya kamu minta nomer hape ku?”
Fika     : “Oh ya, mana hapemu?”
Sari     : “Nih..” Memamerkan dengan sombongnya.
Fika     : “Hape baru ya? “
Sari     : “Yaiya dong “
Tiba-tiba ibu Sari datang
Ibu       : “Sari,ini uang sakumu tadi ketinggalan. Jadi ibu terpaksa mengantarkan ini ke
                sekolahmu”
Sari      : “Sudah kubilang kan bu! Jangan pernah datang ke sekolah”
Fika      : “Sari, jangan begitu sama ibu kamu!”
Sari      : “ Sudahlah, ini bukan urusan kamu, pergi sana ! Semua ini gara-gara ibu”
Ibu       : “ Sari…… Sari…..
           Setiba di rumah, Sari mengemasi barang-barangnya
Ibu       : “Kamu mau ke mana nak ?”
Sari      : “Sudah, bukan urusan Ibu, Aku gak mau punya ibu cacat kayak kamu!”. Sambil
                membereskan
           barang-barangnya
Ibu       : “Tapi ibu bisa jelaskan nak, Tolong jangan pergi! “
Sari     : “Ahhh…..” sambil mendorong ibu
          Sari pun meninggalkan ibunya.Karna terbelilit hutang, Ibu Eni ditagih seorang rentenir
Rentenir    : “Ibu Eni…”
Ibu            : “Iya sebentar” Sambil membuka pintu
Rentenir    : “Bu, mana hutang Ibu? Yang dulu kan  ibu cumin bayar separuh”
Ibu            : “Baiklah ini saya bayar”
Rentenir    : “Ibu pikir uang segini cukup? Hutang ibu itu juga ada bunganya, jadi tidak cukup”
Ibu            : “Tapi saya tidak punya uang sebanyak itu”
Anak Buah  : “Bos, bagaimana kalau rumahnya kita sita saja”
Rentenir    : “Benar sekali kamu,Sebaiknya kamu seret ibu tua ini dari rumah ini. Dan ambil semua
                   barangnya, cepat
Anak Buah  : “Baik boss, Cepat ibu pergi dari sini, ini barang-barangmu” sambil menjatuhkan Ibu
                   Eni
Ibu            : “Jangan nak, tolong beri ibu kesempatan lagi, ibu mohon”
Anak Buah : “Ahhh, Tidak bisa cepat pergi!”
          Ibupun mencari keberadaan Sari dulu, Ia mencari rumah demi rumah, dan menanyakan keberadaan anaknya dan anaknya sudah menikah dan hingga samailah Ibu Eni di rumah Sari
Raka       : “Ma, Kopi buat papa mana?”
Sari        : “ Iya ini sebentar, Kok sepertinya dasi papa belum rapi, biar aku rapikan ya…”
Raka       : “Makasih ma”
          Raka duduk kembali dan membaca Koran.lalu melihat seorang ibu tua lalu menyuruh ibu itu duduk
Raka       : “Bu, ibu duduk dulu sini, Ibu mencari siapa?”
Ibu         : “Ibu mencari anak ibu yang namanya Sari “.
Raka       : “Oh, kebetulan isteri saya namanya Sari, Mungkin dia anak ibu, ini bu minum dulu”
Ibu         : “Terima kasih nak”
Raka       : “Ma.. Ini ada tamu”
Sari        : “Sebentar…”
Raka       : “Ini ma, ibu ini mencari anaknya, kebetulan nama mama kan Sari”
Ibu        : “ Sari…. Kamu ke mana saja nak? Ini ibu, ibu kawatir sama kamu”
Sari         : “Kamu siapa sih?”
Ibu          : “Ini ibu nak “
Sari         : “Sebaiknya kamu ergi dari sini! Cepat pergi”
Raka        : “Mama kok gitu sih, dia orang tua aku juga, harus kita hormati”
Sari         : “Orang tua? Dia bukan orang tua kita, ibu jangan ngaku-ngaku ya!”
Raka        : “Jangan bentak-bentak juga ma!”
Sari         : “Tapi…….”
Raka        : “ Tapia pa ha……?”
Sari        : “ Ah…… Gak tau deh pa”
Keesokan harinya 2 orang yaiti dulu teman SD dan SMAnya datang ke rumah Sari
Andre : “Assalamu`alaikum Sari…. Sari “
Sari : “Iya tungggu sebentar”
Fika    : “Kamu masih ingat kami kan ?”
Sari    : “Iya aku ingat kalian, memang ada apa kalian kemari?”
Andre : “Kita cuman mau ngasih surat ini ke kamu, itu dari ibumu dan kami memberitahukan kalau ibu kamu meninggal?”
Sari    : “Apa?”
Fika    : “Iya ibu kamu sudah meninggal, ya sudah Sar, kami pulang dulu Assalamu`alaikum”
          Sari membuka surat dari ibunya
          “Anakku Sari, ibu senang sekali karena kemaren sudah sempat bertemu denganmu, ibu minta maaf ke kamu, ibu punya salah banyak, sepertinya ibu mau menceritakan ini dari dulu tetapi situasi tidak memungkinkan, waktu dulu kamu lahir, mata kiri kamu cacat, maka dari itu ibu mendonorkan mata ibu untuk kamu, makanya jangan benci ibu ya nak, ibu cuman pengen kamu tahu pengorbanan ibu itu berat, tapi ibu rela cacat asalkan kamu tidak cacat. Ibu selalu saying kamu”
Akhirnya Sari menangis berat, dan dia sungguh-sungguh menyesal akan perbuatannya sampai dia tidak memaafkan dirinya sendiri, baiklah teman-teman, di cerita ini kita tahu perjuangan seorang ibu itu sungguh bear, berat , dan sangat beresiko, maka dari itu sayangilah ibu kita teman!.

Sekian ceritanya, mungkin bila ada yang jelek,ada kesalahan, dan nama yang tertera sangat menyinggung mohon di maklumi karna semuanya hanya kebetulan semata.
Kunjungi juga facebookku : Fifi Cie Fitra
And Follow : @Fifi_Fitra
Terima Kasih

1 komentar: